Belok Kanan: Melaka! (Pt 1)

Belok Kanan: Melaka! (Pt 1)

Hello, friends. what’s up? i was promising my self to keep updating this blog, but i failed. because I am too busy (for fact, doing nothing my daily activity at campus.). please don’t mad at me.

The title of this post sounds like a popular novel written by Adhitya Mulya et all and an upcoming movie with same tittle? iya, sama belok kanannya. Tapi beda destinasinya. Kalau mereka mah belok kanan ke Barcelona, saya mah cukup belok kanan ke Melaka (setelah sebelumnya terbang ke arah KL).

pic taken form here.

Perjalanan kali ini diniati di awal Januari. Setelah dari Bromo (cek postingan ini), Fiyya pun mengajak saya untuk pergi sejenak dari hingar bingar dunia per-plano-silatan. Ga tanggung-tanggung ke luar kota, tapi ke luar negeri. Saya pun mengiakan dengan alih-alih sudah lama sekali tidak liburan (liburan dalam arti sebenarnya. no-laptop and no-work-and-duties-follow). Terakhir rasanya menikmati liburan ya tahun 2014. Benar-benar pergi menghabisan waktu 4 hari di 4 kota berbeda (Jogjakarta, Temanggung, Wonosobo, dan Semarang). dengan berani dan mengucap bismillah, akhirnya di Januari akhir kami memutuskan untuk book tiket pesawat dan hotel di KL dengan itinerary sehari di KL dan sehari di Melaka. Penentuan tanggal pun dirasa aman, 30 Maret pas liburan paskah. Tidak akan berbenturan dengan jadwal hore-hore jurusan ke negri tetangga (akan dijelaskan dalam postingan terpisah).

And the day has comeeeeee~ setelah semalam sebelumnya tidak bisa tidur entah karena terlalu excited atau malah kebanyakan pikiran atau malah kecapekan karena baru pulang dari jualan jamu di Trenggalek, saya dijemput travel jam 6 pagi. Dengan penerbangan jam10an maka kami harus standby di bandara paling ngga 2 jam sebelum keberangkatan. Jam 6 itu adalah jam ngantuk-ngantuknya bagi saya karena semalam tak bisa tidur dengan nyenyak dan packing yang belum usai. Jadi ya selama perjalanan menjemput Fiyya dan mengejar waktu ke bandara ya saya gunakan untuk tidur. hehehe.

Sampai di bandara tepat waktu alhamdulillah, segera check in dan naruh bagasi. Masih ada sisa 1 jam sebelum boarding dan akhirnya kami memutuskan untuk makan KFC. Well, bingung juga mau sarapan apa yang ngga ribet, cepet, dan menunya sudah tidak asing lagi. yang penting mah pokoknya di KFC ngga antri dan kami bisa makan secepat kilat mungkin. setelah makan tentu saja perut kenyang, pikiran tenang, dan siap terbang ke negeri orang. hey it rhymes!

pict nyolong dari status IG Fiya

Malaysia i’m comiiiiiing..

MALAYSIA DAY 1

Sebagai Malaysia virgin a.k.a orang yang belum pernah ke Malaysia sama sekali, saya sangat berharap sama Fiyya untuk menentukan mau ke mana saja kami selama di sini. Tujuan kami di hari jumat yang singkat ini adalah ke Batu Caves, KL city gallery, Pasar Seni, dan Suriah KLCC. Soo many places to go but sooo little time we had. Kami tiba di KLIA jam 13an WKL (waktu KL). setelah proses antri imigrasi dan ambil bagasi yang cukup menyita waktu, kami memutuskan untuk naik grab menuju hotel. Dengan waktu yang sangat singkat tak mungkin kami mengambil transportasi umum yang takes time (ke stasiunnya). dari KLIA ke hotel hanya kena biaya 75 RM. lumayan lah. yang penting segera sampai hotel (untuk sholat dan istirahat) dan segera cabut lagi.

♥ IndeDiBatuCaves™

Dari beberapa info yang saya dapatkan, Batu caves ini terletak di distrik Gombak, Selangor, 13-15 km utara Kuala Lumpur. Menurut Kartika (2015), Batu Caves ini menjadi salah satu kawasan kuil Hindu yang paling terkenal yang ada di luar India dan menjadi titik tumpuan Hindu serta pusatnya perayaan Thaipusam di Malaysia. Di halaman pintu masuk Batu Caves juga ada sebuah patung besar yang tidak lain tidak bukan adalah patung Dewa Muruggan yang tingginya sekitar 140 kaki.

   

Hal yang bisa kita nikmati selama di sini selain berfoto di pelataran dengan banyak burung dara dan dengan si patung emas, kita juga bisa menikmati gua yang berada di atas bukit yang bisa kita datangi dengan menaiki ratusan anak tangga dengan kemiringan yang cukup ekstrim dan melelahkan. Batu Caves sendiri merupakan kawasan perbukitan yang banyak pepohonan dan monyet yang nangkring di tangga. 1 yang pasti, selama saya naik ke atas bukit, yang terdengar adalah banyak obrolan berbahasa Indonesia. hahahaha. berasa kaya di kampung sendiri #eh

Di dalam gua (iya, ceritanya saya dan Fiya berhasil sampai ke atas dengan menggeh-menggeh) terdapat beberapa patung ataupun arca-arca di kepercayaan agama Hindu. Sewaktu kami ke sana, banyak orang yang beribadah (yaiyalah namanya juga kuil, Nde). Agak was-was bagi saya untuk meneruskan perjalanan di dalam gua. Di dalam gua sebenarnya ada beberapa anak tangga lagi menuju tempat beribadah yang lebih tinggi, namun saya dan Fiya mengurungkan niat kami untuk naik ke atas. Karena sadar bahwa tempat beribadah harusnya didatangi dengan keadaan suci (kebanyakan umat hindu yang beribadah memakai baju khusus -saree- dan bertelanjang kaki dari anak tangga paling bawah) sedangkan kami berdua tiba di atas gua masih menggunakan sepatu. Kondisi Batu Caves tergolong ramai lancar namun tidak mempengaruhi kekhusukan mereka-mereka yang beribadah. Saya justru menikmatinya hingga lupa mengambil gambar. Atau mungkin memang seharusnya seperti itu, ada kalanya sesuatu yang tampak di depan mata tidak perlu diabadikan oleh lensa. Dinikmati saja itu sudah lebih dari cukup.

 

Yak sekian reportasi dari (dan tentang) Batu Caves, mengingat keterbatasan waktu Inde dan Fiya harus segera cabut ke lokasi lainnya. Bubye!

IndeDiKLGalleryDanDataranMerdeka

Perjalanan menuju KL City Gallery ditempuh dengan grab, lagi dan lagi. Bukannya sombong (memang iya, kalau mengutip kata Mas Deni mah, jomlo kaya raya), kami hanyalah manusia-manusia dengan keterbatasan waktu dan kesempatan. Apapun akan kami tempuh dengan berbagai cara asal sampai dengan cepat dan selamat (pun ongkos grabnya murah). Hanya saja kami pergi disaat yang tidak tepat karena jam segitu (saya agak lupa, sekitar jam 5an) itu adalah macet-macetnya KL. wes kaya nde Malang ae, kabeh mlakune alon-alon. Once you go and have a time in KL, make sure you know the jam time. Ga mau kan waktu kalian tersita di jalan?

  

Yang pertama kami lewati adalah dataran merdeka. Mengutip dari Uninuna (2015), Siapapun yang mencintai sejarah dan bangunan tua haruslah mengunjungi tempat ini. Berturut-turut di sisi kiri jalan terdapat Old Sessions & Magistrates Court Building yang dibangun pada tahun 1910, kemudian Panggung Bandaraya KL yang dulunya dikenal sebagai the Old City Hall, lalu Former High Court Building yang dibangun dengan gaya arsitektur Moorish, selanjutnya Sultan Abdul Samad Building yang kini difungsikan sebagai kantor Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan, dan Government Office yang terletak persis sebelum perempatan jalan. Sementara di sisi kanan terbentang Dataran Merdeka dengan tiang bendera setinggi 100 meter, the Cathedral of St. Mary –gereja Anglikan tertua di Malaysia, dan Royal Selangor Club. Tidak ketinggalan Victoria Fountain yang sudah berusia 100 tahun lebih, berdiri di dekat mural para Bapak Malaysia.

Pemberhentian akhirnya tiba di depan gedung KL City Gallery. itu lo, yang ada tulisan gede I ♥ KL. Ga sempat masuk karena udah gelap (jam7 malam), dan kami memutuskan untuk segera ke KLCC untuk bertemu dengan Mba Citra, salah satu rombongan kami yang lain. Awalnya kami mau naik grab lagi menuju KLCC, lalu Fiyya ingat di dekat KL City Gallery ada stasiun LRT. akhirnya yasudah mari berjalan lagi mencari stasiun terdekat.

  

IndeDiSuriahKLCC

Perjalanan ke KLCC kami tempuh menggunakan LRT. Akhirnya, pakai transportasi umum juga. hehehe. Setelah bertanya ke orang-orang di mana stasiun terdekat (dengan keadaan basah akibat gerimis sendu). dari Dataran Merdeka ke KLCC cukup murah ternyata. cuma ya lupa habis berapa, under RM 10 pokoknya.

Jauh-jauh ke Malaysia kok ujung-ujungnya ngemall sih Nde? ya gapapa. kan mumpung. pas 1 tempat sama petronas pula. so i don’t see why not. Kan sekalian ngaso minum es jus. Beneran loh ini, sembari menunggu Mba Citra datang. Saya dan Fiyya pesan es jus dan rasanya enak. kemudian saya muter-muter Suriah Mall sebentar. cuma ke beberapa stand saja. Ke Sephora, Innisfree, Laneige, Mac, dan Swatch. Lha kok akeh? iya soale ada beberapa tem3n yang nitip beli barang di situ. tapi kok pas nda bejo semua, yang titip kok barang e pada ngga ada semua. Hahahaha (ketawa kesel, lha wes kadung muter adoh2 eh malah ra entuk). akhirnya ya belanja coklat. untung rakalap.

Mba Citra ini adalah temennya Kak Fiyya pas mereka di Jogja. Saya pernah ketemu sih pas nikahan Ayu’tul di Malang tahun 2015 lalu, cuma ya inget-inget lupa. hehehe. jadi awalnya kami melakukan trip ini berempat. Saya sama Fiya dari Malang, Mba Citra dan Desy dari Jogja. Cuman karena ada musibah paspornya Desy ilang jadi cuman Mba Citra yang berangkat. dan ujung-ujungnya kami gaje bertiga. dan foto2 doang di depan twin tower. Maunya di taman terdekat cuma ya gitu, begituu banyak manusia yang berfoto jg di sana. Akhirnya kami mengalah dan berjalan menjauhi KLCC. That wasnt bad idea. Background foto kami malah lebih ciamik, apalagi dengan bantuan tangan dingin berbik motret. Bayangkan dia foto sampe mlumah2.

 

Saya dan Mba Citra mah seneng-seneng aja jadi model ya. itu fotografernya sampe mlumah PW ga mau pindah nggen. Ketidakjelasan di depan KLCC akhirnya dihentikan pada pukul 10 WKL karena perut sudah kelaparan. Betapa melelahkan melakukan perjalanan dari jam6 pagi dari Malang hingga tiba di KLCC ini. Daaaaan sepiring nasi lemak di dekat hotel sebagai pelipur lara karena ada beberapa tempat yang belum sempat dikunjungi. Murah cm 7 RM dah dapat makan malam yang mengenyangkan. tho it was a knackering day, i screamed happy.

Part 1 berhenti di sini. kita ketemu di part 2 yach.

from KL with love,

I.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *