Thank you, 2019. Next!

Posted on

I thank 2019 enough for every lessons and blessings, tears and laughs, hellos and goodbyes. What a roller coaster year.

How i miss strolling around Seoul.

2019 mengajarkan kalau emang hidup ya begitu itu, di awal tahun seneng terus, di tengah taun puyeng, eh di akhir tahun sedih banget. Betapa dentuman begitu terasa di akhir tahun. Patah hati yang sepatah-patahnya. Dan akhirnya berdamai dengan mengatakan cukup. Berbahagia secukupnya, berpuyeng-puyeng secukupnya, bersedih secukupnya (eh ini kaya lagunya Hindia). YeAh, whatever happens, life supposed to be continued. Terima kasih 2019, semoga banyak kabar baik di tahun depan.

Dear Indah, berbahagialah secukupnya. you are blessed and loved.


jalani aja sebahagianya

Posted on

2019 tinggal hitungan bulan lagi. Semakin mendekati akhir, semakin rapat pula jadwal jualan jamu (baca: paparan proyek) antar kota antar kabupaten. Deadline mah pasti banyak ya (ngga usah ditanyain). Ngecekin laporan ini itu. Belum lagi urusan kantor yang juga akan banyak sahut-sahutan minta dikerjain duluan. hehehe, alhamdulillah ya Allah masih kasih sibuk. Masih diberi kesempatan buat jadi pribadi yang lebih bermanfaat lagi. Akan ada hari-hari yang lebih berat dari biasanya, lebih melelahkan dari biasanya.. Mengutip (at)kata.puan (dengan sedikit ubahan), tak perlulah dikhawatirkan. Biarkan esok hanya sebatas esok, hari ini jalani saja sebahagianya.

 


#SatuTahunDigiTribe Aroma Karsa

Posted on

Dulu pas ikutan PO Cerbung AromaKarsa by Dee Lestari tiap senin dan kamis ga akan nyangka kalau bisa dapat temen2 baru yang super baik dan super kece. Kini telah #satutahundigitribe kami bertahan #sehatisedigitally, dengan obrolan yang tidak pernah terjeda setiap harinya (meski sering saya skip obrolan dan ngobrol di waktu2 tertentu aja). Dalam menyemarakkan 1 tahun pertemanan kami, dibuatlah acara tukar kado dg syarat nama pengirim harus pakai nama karakter di novel tsb. Kado untuk saya, ada beberapa reusable bags (yang akan kepake banget kalau berbelanja) dan cutlery set untuk mencintai bumi dengan meminimalisir penggunaan sampah plastik. Thank you Mamak Ambrik (yang uda ketebak waktu kadonya sampe adalah si Ibuknya Dayuning @arindramika) dari Lumajang. Bulik Indah suka sekali. 💙


Belajar melepaskan ala Fumio Sasaki

Posted on

“Kebahagiaan bukanlah memiliki apa yang kita inginkan, melainkan menginginkan apa yang kita miliki.”
– Rabbi Hyman Schantel

i have a new addiction. disela-sela hecticnya kegiatan di bulan ini mbaca “Goodbye, things” karangan Fumio Sasaki. Gara-gara Mba Atiit yang nerapin gaya hidup “clean and decluttering, less waste and minimalism” jadinya ikut kebawa pengen cari info sebanyak-banyaknya tentang hidup rapih (meski dari dulu ngga suka dan gemes banget sama keberantakan, life is already a mess, janganlah ditambah berantakan lainnya, eh lha kok curhat. #abaikan). Liat documentary tentang minimalism di Netflix, trus liat serial Marie Kondo di Netflix juga, somehow minimalism is the new green (at least for me).

Konsep minimalis yang ditawarkan oleh Fumio Sasaki ini ekstrim gila, berbeda dengan metode Marie Kondo yang (juga membuang barang tapi juga) lebih milih menyimpan barang yang masih spark joy di kehidupan kita, si Sasaki ini lebih ke throwing away barang-barang yang kita punya dan hanya menyimpan yang essential aja. Ngga peduli mau spark joy apa ngga, ketika barang tersebut uda ngga essential ya mending hempaskan sajah. Dalam bukunya, Sasaki memberikan 55 tips berpisah dengan barang yang kita punya, tanpa ragu dan tanpa ampun. Intinya adalah membuat kita lebih fokus pada prioritas dan tidak perlu memberi banyak perhatian pada barang yang sebenernya tidak kita butuhkan. di sini si Sasaki banyak kata-kata yang cukup menohok dan membuat saya bergumam “iya juga yaa..”. Continue reading »