Tempatku bersegera menujumu.

Tempatku bersegera menujumu.

image

Bandara. Membelah jarak dan waktu antara kita. Terukur sudah ribuan hasta dan detik membentang.

Di kota ini, pikiranku melayang tentang kamu. Berjelaga tentang segala pertemuan kita di masa lalu.

Semakin jauh melakukan perjalanan, semakin ingin menjadikanmu sebagai tempat berpulang.

 

Bandara. Tempat di mana semua rasa berkecamuk.

Peluh dan penat selepas kerja membuat segalanya terbayarkan dengan rasa senang ingin cepat sampai di rumah.

 

Bandara. Tempatku bersegera menemuimu.

Tunggulah wahai sayang, sejengkal lagi kita akan bersua dalam temu.

 

Ambon, 12 Juni 2016

Kepada pagi

Kepada pagi

image

Kepada pagi, hangatkanlah jiwa-jiwa yang sepi.

Sang peraih cita dan cinta yang sedang berusaha mengijabah mimpi.

Berharap semesta memberkati.

 

Banda, 9 Juni 2016

… dengan baik.

… dengan baik.

image

Allah merahasiakan masa depan untuk menguji kita berprasangka baik, berencana baik, berupaya baik, bersyukur dan bersabar (dengan baik)
– Salim A Fillah

Tak pernah tau apa yang akan benar terjadi kedepannya. Jalan hidup nampak masih sangat lurus dan panjang, yah meskipun ada cabang-cabang tikungan jalan, kerikil kecil, tanjakan dan lain sebagainya yang tak kasat mata.

Berpasrah padanya dengan meminta dan memohon yang terbaik. Meminta, bukan meminta-minta. Memohon, bukan memohon-mohon. Perkara hidup kembalikan saja kepada yang punya hidup. Suratan takdir dan skenario hidup darinya pasti lebih baik dari sutradara manapun. Kita tinggal berbuat baik.. dengan baik.

Love,
Ind.

Cewe yang lebih pintar atau sebaliknya?

Cewe yang lebih pintar atau sebaliknya?

Kelamaan ditaruh di draft sampai lupa mau posting. Maapkan.

Kepancing mbahas timeline Mba @JennyJusuf nih (dan ini lupa kapan #YaAllahIndeeee), gegara kesentil sama pertanyaannya.

“Cowo-cowo, kalian mau nggak pacaran sama cewe yang lebih pinter/sukses/terkenal dari kalian? Kalo iya, alasannya? Kalo nggak, kenapa?”

Dan semua rata-rata yang mensyen njawab adalah cowo yang tidak masalah dengan status cewe yang lebih daripada cowo. Weits, itu cowo-cowo pada tinggal dimana yaaaa? Berasa one in a million, saya jarang nemuin yang kaya gitu. Kalo ketemu, yah si lelakinya rata-rata udah punya monyet dan buntut beristri. Sigh. Contohnya ya temen kantor, dosen senior di kampus. Beliau cewe udah S3, suaminya S1. They didn’t mind and enjoy every single thing they do. Soalnya bakal balik lagi ke kebutuhan pekerjaannya. Kalo jadi dosen kan wajib sekolah setinggi-tingginya.

Semua pasti bilang, “cewe itu harus pintar soalnya pasti bakal jadi sekolah pertama bagi anak-anaknya”. “cewe itu harus berpendidikan tinggi soalnya anak yang cerdas diturunkan kecerdasannya dari ibu yang cerdas”. Dari jawaban para followernya Mba JJ, cowo-cowo itu ga masalah kok sama pasangan yang lebih pintar dll darinya. Tapi kok kenyataannya ngga gitu ya #ahem #pengalamanPribadi. Kalau semua cowo berpikiran seperti itu, dosen-dosen saya di kampus pasti sudah punya pasangan masing-masing, terlepas dari faktor lainnya sih. Dan saya juga pernah kok, patah hati gara-gara si cowo (yang saya suka) ngga pede dengan status saya yang udah magister dan dia masih sarjana. Padahal saya kan ngga masalah dengan statusnya, yang saya butuhkan adalah the ability and willingness to grow up and grow old together. Tapi ternyata pemikiran cowo ngga secomplicated cewe sih ya. Justru gegera status pendidikan yang lebih tinggi itu mengganggu pemikiran si mas itu. Yap, THAT SIMPLE THING MAKES ME FRUSTRATED!

Pernah ada kajian penelitian terkait pasangan hidup untuk cewe dan cowo, pernah ditwit oleh kak @akarliar. Dan itu ngga tanggung-tanggung, skripsinya anak UI loh. Dari penelitian tersebut menyebutkan bahwa para cowo sebagian besar berharap kalo si cewe memiliki gelar pendidikan maksimal sama dengan gelar pendidikan si cowo. Nah kalo cewe akan mencari pasangan yang minimal sama dengan gelar pendidikannya. Si cowo S2 pasti akan mencari cewe (maks) bergelar s2, nah kalo cewe s2 akan mencari cowo (minimal) bergelar S2. Nah dari situ kan ketauan kalo ujung-ujungnya standar pendidikan cewe tidak boleh lebih tinggi dari pasangan cowonya.

Nah kalo saya mah, ngga masalah kok mau cewenya lebih pintar secara akademis apa nggak. Yang diperlukan itu adalah cewe yang pinter menempatkan diri dan memiliki attitude yang baik. Percuma sekolah tinggi tapi kelakuannya kaya anak ngga lulus sekolah.

Penutup postingan ini adalah quote super kece dari Dian Sastro, “Entah berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas.”

Love,
I.