2018.

2018.

Wah. Tak terasa sudah memasuki lingkaran 365 hari yang baru. Setelah ups and downs yang terjadi selama setahun terakhir, semoga 2018 memberi lebih banyak warna yang membuncah karna suka cita dan bahagia. Aamiin, pemirsa? Aamiiiiinn..

Tahun ini diawali dengan perjalanan ke Bromo. A scheduled plan? tentu saja tidak pemirsa. Saya juga tidak menyangka akan menginjakkan kaki lagi ke tempat kenangan yang seharusnya tidak perlu diingat lagi 8 tahun yang lalu ini kalau tidak si Kakak Piya Piyo ini menelpon menanyakan apa yang akan saya lakukan saat pergantian tahun terjadi. Me? I was planning to do nothing. Just watching movie and have a long cucusapi (curhat curhat sampai pagi) conversation with Devi. yanasib. Begitu ada tawaran ke Bromo cuma-cuma ya siapa yang sanggup menolaknya? Syaratnya cuma 1, kumpulnya di rumah Fiya. Well, challenge accepted!

Berbekal pakaian yang proper [iya, memang fashion paling penting karena kami tau, ke Bromo tiada artinya tanpa foto-foto], saya dan Devi memesan gocar ke Buring. it really took time to arrive at its destination because (every street in) Malang waaaaaaaaaaay to crowded. slowly but sure, kami sampai di Buring tepat jam 11 malam dan kami tinggal menunggu jeep yang akan mengantarkan kami ke Bromo.

Perjalanan dimulai jam 11 malam karena takut jalanan ke Bromo akan sangat macet sekali. Rute yang kami lalui via Tumpang dengan kondisi yang sepi sesepi hati ini namun sesekali ada tembakan Kembang api ke udara. Somehow made me realise that we aren’t alone that night. masih banyak yang terjaga merayakan suka cita pergantian tahun, saya tetap terjaga karena medan yang kami lalui tidaklah mulus apalagi ditambah maag yang tiba-tiba kumat. Ya allah, benar-benar sengsara! Tidur pun tak nyenyak, hanya tidur ayam belaka.

Tiba di desa parkiran jeep jam 3 pagi dan sangat dingin sekali. kesalahan sekali saya hanya memakai coat tipis. Cukuplah teh panas banget yang menjadi penyelamat, yaaaa meskipun tak bertahan lama. Kami duduk di warung sembari menunggu subuh dan mentari tiba. Dengar-dengar info kalau penanjakan penuh sesak dengan orang akhirnya mengurungkan niat kami untuk melihat sunrise. Setelah subuh lahirlah ngantuk, akhirnya kami kembali ke jeep dan tidur. zzzzzz

Ketika mentari mulai menampakkan wajahnya, kami turun ke lokasi Gunung Bromo. Begitu sampai langsung sarapan! setelah perut terisi pun kami akhirnya berfoto. Lokasinya pun ndak banyak yang kami sambangi. hanya beberapa spot tapi cukuplah meninggalkan memori yang manis.

 

 

 

Setelah foto-foto pun kami langsung pulang ke Buring dan selama perjalanan pun kami tak bersuara sama sekali. seperti kesirep, niatnya cuma merem eh begitu membuka mata udah di deket Buring aja. wkwkwkw.

Teruntuk Fiyya dan Bu Mamik, thank you for giving me a chance to accompany you two. such an honour. i was happy back then. Dear, 2018. I am ready to kick ass your days! Teriring doa, agar selalu bahagia yang disertai sehat jasmani dan rohani.

from Bromo with lotta love,

I.

 

ps: these pictures on this post were taken by Talented young lady Fiya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *