Snatching an employee.

Posted on
pict from here

Playback song: Romeo, take me somewhere we can be alone…

Saya tidak berbakat dalam kegiatan culik-menculik, terutama untuk menculik lelaki paruh baya yang juga seorang pegawai negri sipil. Tapi kali ini saya terpaksa melakukannya, bukan karena saya mau. Tapi karena saya butuh. And I nailed it. Bulan lalu, saya memang telah melakukan suatu kebodohan, membuat kartu atm ayah saya [yang sekarang saya pegang] terblokir akibat salah memasukkan pin. That’s why I needed him to unlock the atm card.

Rumah memang sangat sepi. Kalaupun saya tidak pulang, di rumah hanya ada Bapak dan Ibu. Adek dan Kakak saya sudah berpindah ke luar kota untuk merantau. Sama seperti saya, mereka juga jarang pulang. Jadwal Bapak sehari-hari adalah mengantarkan Ibu ke sekolah. Setelahnya, biasanya beliau langsung berangkat ke kantor. Saya masih santai-santai di rumah. Masih saja berkutat dengan yang namanya laptop. Sejam lebih Bapak pergi, biasanya mengantarkan Ibu tak pernah selama ini. Alih-alih merasa tidak jadi, saya tidak beranjak sesentipun dari tempat duduk saya.

“Bapak katanya ada rapat, say.” Ah Ibu memang menjadi sumber jawaban atas segala pertanyaan. Well, saya akhirnya menanyakan pada Ibu kenapa Bapak begitu lama perginya. Saya sudah mikir kalo urusan ke bank ini bakal dipending. Eh selang beberapa saat, ada suara motor memasuki halaman rumah. Bapak pulang!

“Lah, kenapa masih di posisi yang sama?”

“Loh katanya Bapak ada rapat. Jadi to nganter indah? Sek.. sek.. Gimme a sec.” Saya segera berganti pakaian. Sempat saya mengintip Bapak, Beliau hanya duduk di meja makan. Meminum kopi buatan Ibu. Setelah siap, kami berdua pun berangkat menggunakan sepeda motor kesayangan Bapak. Jarak tempuh antara rumah dengan bank memang cukup jauh. 1 jam perjalanan.

“Jadi rapatnya udah selesai? Cepet banget.” Saya memulai pembicaraan. Bapak tertawa. Bapak menjelaskan kalau beliau tidak ikutan rapat. JENGJENG! Bapak memilih menemani saya seharian demi sebuah kartu yang terblokir daripada mengikuti rapat. Ih, Bapak saya magabut. Begitu saya meledek beliau. Cuman tawa yang terdengar. Dalam hati saya menangis. Mengutuki kesalahan yang sudah saya lakukan. Kalau saja saya tidak ceroboh salah memasukkan pin, kejadian Bapak bolos rapat kan ngga perlu terjadi. Siapa bilang cuma kasih Ibu yang sepanjang jalan? Kasih Bapak juga sama kaliiiii. Bapak juga bakal rela ngelakuin apa aja demi anaknya.

Beberapa saat setelah Bapak mengisi formulir di bank, petugas yang melayani kami kembali dengan membawa kartu atm Bapak yang sudah tidak terkunci. Haha, proses nge-unlock kartunya ternyata tidak sebanding dengan lama perjalanan yang kami tempuh menuju bank. Sebelum pulang, Bapak sempat bilang, “Lain kali sebelum masukin pin, dilihat bener-bener kartu mana yang sedang masuk di mesin ATM”. Saya nyengir. Saya harusnya bersyukur ya, kalo ngga gini, saya juga ga akan kencan sama Bapak. Ah ini sepertinya menjadi penculikan terindah. The day when you can be alone with your dad. All day long. Tak ada lagi hal yang bisa saya dustai.

image

Ada postingan path teman yang sempat membuat saya bergidik, dan teringat akan orang tua saya. Saya sadar semakin bertambah usia, saya semakin jarang bersama Bapak dan Ibu. Intensitas bertatap muka pun semakin berkurang seiring dengan banyak urusan duniawi yang harus dikerjakan dan diraih. Dan pertemuan lewat tulisan dan suara kini tidak pernah cukup. Ah kalian, semoga selalu sehat dan panjang umur ya.

Regards,

Ind.


Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *