apa arti kehidupan menurutmu??? hanya sebuah kisah? sebuah drama monoton? ato semacam garis takdir yang sudah dilukiskan olehNya?
hmmm…
kalo menurut saya, kehidupan itu tak ubahnya seperti sebuah sepeda. dimana kita punya garis start dan finish dalam mencapainya. KAYUHLAH SEPEDAMU. agar kau bisa sampai pada garis finishmu. garis impian yang siap kau capai. impaianmu, menunggumu di garis finishmu.

kehidupan itu layaknya sepeda yang harus terus kita kayuh..
memperlajari sebuah kehidupan bisa diumpamakan belajar menaiki sepeda. dimana diawal kita harus bisa dituntun untuk bisa mengendarai sepeda kita. dengan bantuan ayah ato ibu yang selalu menemani kita. yang memegangi sepeda kita. kalo dalam kehidupan, drama kita juga dimulai dari rumah. dimana ada orang tua yang selalu menuntun kita dengan berbagai macam pelajaran-pelajaran simpel yang akhirnya sekarang berbuah menjadi sebuah kebiasaan.
ketika kita sudah dinyatakan siap dan bisa untuk mengayuh sepeda, maka orang tua pun akan melepaskan pegangannya tapi tidak pengawasannya. kita akan mengayuh sepeda kita sendiri dan orang tua kita akan mengawasi kita dari jauh. sama halnya dengan kehidupan. ketika dirasa kita sudah “mandiri”, maka orang tua kita hanya sekedar mengawasi. tak akan mendikte kita lagi. itu yang saya alami ketika harus berpisah jauh ratusan kilometer dengan orang tua saya. kondisinya memang saat itu [tahun 2004] saya sedang bersekolah di Kota Kediri. sedangkan Bapak dan Ibu saya ada di Bangkalan. melepaskan kan bukan berarti tidak mengawasi. beruntung dengan keberadaan dan temuannya dari mister Alexander Graham Bell, dengan adanya telepon, orang tua saya tetap mengawasi saya.
dalam bersepeda, tentunya ada banyak hal yang kita dalam selama perjalanan… kontur jalan yang menanjak, menurun, perkerasan jalan yang mulus, ato malah berlubang, ada jalanan dengan perkerasan aspal, makadam, jalan tanah, becek.
jalan yang menanjak, berlubang, dan lain-lain merupakan suatu kodisi dimana dalam kehidupan, kita akan bertemu dengan masalah-masalah. dan masalah itu pun tergantung pada tingkatannya sendiri. masalah kecil atau masalah besar. Jalan yang becek atau perkerasan tanah adalah sebuah masalah kecil. masih bisa diselesaikan dengan mudah. terbukti dengan kita masih bisa mengendarai sepeda kita dengan baik. masih berada pada jalur tersebut.
jalan yang menanjak adalah kita harus lebih keras mengayuhnya.. agar bisa melaluinnya. sekuat tenaga dan kekuatan akan kita keluarkan agar tanjakan tersebut bisa terlewati. tak peduli dengan peluh yang keluar. sama halnya dengan kehidupan, dimana kita dihadapkan dalam sebuah masalah yang besar. kita akan berusaha menyelesaikan, tak peduli pikiran yang sudah mentok, kantong yang sudah tipis, dan pikiran kita yang sudah di ambang batas.
Dan ketika jalanan menurun, tanpa dikayuhpun sepeda kita akan meluncur dengan cepat. Bahkan yang sudah ahli bersepeda pun bisa melaju tanpa memegang stang sepeda. dalam kehidupan nyata, kondisi tersebut merupakan kondisi dimana kita selalu diberi kemudahan oleh Tuhan dalam menghadapi sesuatu hal. ketika kita sama-sama melewati kondisi itu, pasti kita akan tersenyum senang.
tapiiii… pernah ada kalanya kita berusaha mengayuh sepeda kita dengan sekuat tenaga, dengan harapan akan cepat sampai tujuan. Jalan begitu padat, tak membuat hati patah semangat. Ada kalanya diri mulai capai menganyuh, namun hati ingin cepat sampai. Tetesan keringat membasahi diri, menandakan diri sudah diambang batas. Capai, bosan, seakan-akan jalan tiada pernah ada ujung, kadang lurus kadang berkelok kadang pula berbatu. maka, ketika kita mengalami kondisi seperti itu, bolehlah kita berhenti sejenak untuk istirahat.
Life is like riding a bicycle. To keep your balance you must keep moving ~ Albert Einstein
bersepeda itu merupakan salah satu pembelajaran “balancing” dalam kehidupan kita. dimana kita harus bisa menyeimbangkan segala yang yang ada di dalam hidup ini. Terkadang kita sendiri terlalu fokus untuk meraih tujuan kita. terus melihat mimpi yang ada di depan kita. terus mengayuh sepeda, tak peduli apapun kondisinya. Terlalu fokusnya kita, kita malah melewatkan bahwa kita telah melewati taman bunga yang indah. Fokus itulah yang membuat kita tidak bisa menikmati apa yang terjadi dengan lingkungan kita. Kita sibuk mengurus urusan kita itu. kita terlalu sibuk berkutat dengan tujuan kita.
Fokus memang diperlukan dalam mencapai setiap tujuan tetapi kita juga harus tahu kapan menikmati indahnya dunia kapan harus fokus kembali. Ada kalanya kegundahan hati, kejenuhan diri dapat dijawab dengan menghentikan kayuan sepeda dan menikmati apa yang kita lihat. Ada kalanya pula kita harus memperlambat laju sepeda kita untuk menikung dengan lebih tepat. Ada kalanya pula kita harus turun dari sepeda dan beristirahat dibawah rindangnya pohon atau menikmati sebuah pemandangan yang kita lalui.
so, jangan berhenti mengayuh sepedamu ya… melajulah perlahan, dan kau akan tiba pada tujuanmu, pada waktunya.